Welcome to My Blog

Regard to all
Hey...
1st day i will write article about physicology nursing, i hope can help every body to learn about care of ourself and patient also other.
thanxz so much for your attention.
be patient.

NEW GENERATION

NEW GENERATION
InsyaAllah menjadi anak yang sholeh dan sholehah,berguna bagi agama dan negara.Amin

Sunday, July 12, 2009

Konsep Komunikasi Terapeutik

Proses Komunikasi
Komunikasi manusia merupakan proses dinamis yang dipengaruhi oleh kondisi fisiologis dan psikologis partisipan. Model struktural komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut ini.
1. Pengirim-penyampai pesan.
2. Pesan-unit informasi yang disampaikan dari pengirim kepada penerima.
3. Penerima-yang mempersepsikan pesan, yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan.
4. Umpan balik-respon penerima pesan kepada pengirim pesan
5. Konteks-tempat komunikasi terjadi.
Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen struktural ini, masalah spesifik atau kesalahan yang potensial dapat diidentifikasi.
Teknik Komunikasi Terapeutik
Dua persyaratan komunikasi yang efektif, yaitu (1) komunikasi ditujukan untuk menghormati baik perawat maupun pasien dan (2) komunikasi tentang penerimaan atau pengertian mendahului tiap saran informasi atau informasi yang lebih spesifik. Terdapat berbagai metode pencacatan komunikasi perawat-pasien. Metode tersebut termasuk rekaman video, rekaman suara, dan verbatim, gambaran kasar, dan catatan pasca interaksi.
Hubungan terapeutik perawat-pasien merupakan pengalaman belajar timbal balik dan pengalaman emosional korektif bagi pasien. Dalam hubungan ini, perawat menggunakan diri(self) dan teknik-teknik klinis tertentu dalam menangani pasien untuk meningkatkan pemahaman dan perubahan perilaku pasien.
Sifat Hubungan
Tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan pasien dan meliputi :
1. Realisasi diri, penerimaan diri, dan peningkatan penghormatan terhadap diri.
2. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
3. Kemampuan membina hubungan interpersonal, saling tergantung, dan intim dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai.
4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personl yang realkitas.
Untuk mencapai tujuan ini, berbagai aspek pengalaman hidup pasien dikaji selama berlangsungnya hubungan. Perawat memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengeksppresikan persepsi, pikiran, dan perasaanya serta menghubungkan hal tersebut dengan tindakan yang diamati dan dilaporkan. Area konflik dan ansietas diklarifikasi. Juga penting bagi perawat untuk mengidentifikasi dan memaksimalkan kekuatan ego pasien serta mendukung sosialisasi dan hubungan dengan keluarga. Masalah komunikasi diperbaiki dan pola perilaku baru danmekanisme koping yang lebih adaptif.
Penggunaan Diri secara Terapeutik
Perangkat pembantu utama yang dapat digunakan oleh perawat jiwa dalam praktik adalah dirinya. Jadi, analisis diri merupakan suatu aspek penting pada asuhan keperawatan yang terapeutik. Kualitas personal tertentu yang dibutuhkan oleh perawat yang berkeinginan memberi asuhan terapeutik meliputi hal berikut ini :
1. Kesadaran nilai
2. Klarifikasi nilai
3. Eksplorasi perasaan
4. Kemampuan menjadi model peran
5. Motivasi altruistik
6. Rasa tanggung jawab dan etik
Fase Hubungan
Terdapat empat fase berurutan dalam hubungan perawat-pasien, (1)fase prainteriaksi(2)fase orientasi atau perkenalan(3)fase kerja, dan (4)fase terminasi
Komunikasi Fasilitatif
Teori komunikasi berhubungan dengan praktik keperawatan jiwa untuk tiga alasan utama.
1. Komunikasi merupakan alat untuk membina hubungan terapeutik karena komunikasi mencakup penyampaian informasi dan pertukaran pikiran dan perasaan.
2. Komunikasi adalah cara yang digunakan untuk mempengaruhi prilaku orla lain. Oleh karena itu,
komunikasi sangat penting untuk mencapai keberhasilan intervensi keperawatan karena proses keperawatan ditujukan untuk meningkatkan perubahan perilaku adaptif.
3. Komunikasi adalah hubungan itu sendiri, tanpa komunikasi, hubungan terapeutik perawat-pasien tidak mungkin tercapai.
Tingkat Komunikasi
Komunikasi Verbal terjadi melalui media kata-kata, lisan atau tulisan, dan komunikasi verbal mewakili segme kecil dari komunikasi secara menyeluruh. Validasi tentang makna komunikasi verbal antara perawat dan pasien sangat penting.
Komunikasi Nonverbal meliputi pancaindra dan mencakup segala hal selain kata yang tertulis dan diucapkan. Ada lima kategori komunikasi nonverbal yaitu :
- Isyarat vokal : suara dan bunyi paralinguistik atau extraspeech.
- Isyarat tindakan : semua gerakan tubuh, termasuk ekspresi wajah dan postur.
- Isyarat objek : objek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.
- Ruang : jarak fisik antara dua orang.
- Sentuhan : kontak fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi nonverbal yang paling personal.
Dimensi Hubungan
Keterampilan atau kualitas tertentu harus dicapai oleh perawat untuk memulai dan meneruskan hubungan terapeutik. Keterampilan tersebut menggabungkan perilaku verbal dan nonverbal serta sikap dan perasaan yang melatarbelakangi komunikasi perawat. Keterampilan ini secara luas dibagi menjadi dimensi responsif dan tindakan.
1. Dimensi Responsif mencakup kesejatian, hormat, pengertian empati, dan kekongkretan. Dimensi ini penting dalam fase orientasi hubungan untuk membina rasa percaya dan komunikasi terbuka. Dimensi ini terus bermanfaat sepanjang fase kerja dan fase terminasi serta memungkinkan pasien mencapai pemahaman.
2. Dimensi yang Berorientasi padaTindakan mencakup konfrontasi, kesegeraan, pengungkapan diri perawat, katartis emosional, dan bermain peran. Dimensi ini harus diimplementasikan dalam konteks kehangatan, penerimaan, dan pengertian yang dibentuk oleh dimensi responsif. Dimensi ini membantu kemajuan hubungan terapeutik dengan mengidentifikasi hambatan pertumbuhan pasien dan tidak hanya memperhitungkan kebutuhan akan pengertian atau pemahaman internal, tetapi juga tindakan eksternal dan perubahan perilaku.

Rujukan :
Linda Carman Copel : Kesehatan Jiwa dan Psikiatri Edisi 2: EGC. Jakarta
Gail W. Stuart : Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5: EGC. Jakarta

No comments:

Post a Comment